Seni adalah soal penghayatan, sementara ilmu seni adalah soal pemahaman. Seni ada untuk dihayati, sementara ilmu seni hadir untuk memahami. Bagi kita yang menganggap karya seni sebagai poduk intelektual, ia harus terus menerus didedahkan ke dalam berbagai paradigma keilmuan, sehingga produksi pengetahuan itu akan terus bergulir, sebagai bagian dari khasanah kritis kebudayaan. Melihat beragam penciptaan karya hari ini, kita seakan dihadapkan pada trend wacana budaya (modern-kontemporer) yang seolah- olah telah menautkan hakikat seni dalam beragam konteks global, yang kadang-kadang disadari ataupun tidak, berjarak dan tidak ada hubungannya langsung dengan realita kita sendiri. Terlepas dari itu semua, yang menarik adalah mulai tumbuhnya kesadaran dari para perupa muda untuk mengeluarkan beragam pemikiran disebalik karya yang dicipta. Hari ini kebanyakan mereka mulai berani melontarkan ideologi keseniannya. Terus melakukan evaluasi dan redefinisi atas pilihan praktek berkesenian mereka. Ruang-ruang diskusi kritis pun mulai tumbuh meski masih minim dan kebanyakan menjadi sangat ̳komunal‘ dan bersifat ̳terbatas‘.
Minimnya ̳ruang untuk berbincang‘ bagi para perupa dan audiensnya menyebabkan apresiasi seni seakan berhenti diruang- ruang pajang galeri, tepuk riuhnya penyelenggaraan event, mewah dan mahalnya katalog, sementara kajian kritis atas praktek berkesenian perupa semakin jarang dilakukan. Jikapun ada, hanya ter- henti di bangku akademik, ataupun se- kedar peristiwa side event (artist talk) dalam sebuah event pameran yang biasanya sepi peminat. Hadirnya ruang dan peristiwa bagi perupa untuk berbagi tentang idea dan pemikirannya secara langsung menjadi satu hal yang dinantikan.
Merasakan keragaman praktek berkesenian kita hari ini, belum banyak perupa yang mau berbicara atau menuliskan filsafat seninya bagi orang lain. Kebanyakan dikarenakan kurangnya ruang, terpaku pada praksis penciptaan, terlampau asyik pada ranah produksi, dan menyerahkan akumulasi pemikirannya kepada penulis, curator, para teoritisi, untuk disuarakan. Sementara audi- ens di lepaskan begitu saja untuk mereka- reka dan menafsir-nafsir maksud perupanya, tanpa diberikan peluang untuk berdialog langsung dengan perupanya, melontarkan apresiasi kritis yang akan memperkaya gagasan perupanya.
Sekiranya patut untuk terus disadari bahwa seni bukanlah melulu pada praktek penciptaan, tapi juga soal komunikasi dengan orang lain. Komunikasi seni bukan semata-mata menyampaikan informasi, namun lebih jauh dari pada itu, komunikasi seni adalah komunikasi nilai- nilai pemikiran, pengalaman pemahaman maupun kualitas medium seni itu sendiri. Dari perupa pada audiens, dan sebaliknya. Bertemunya pengalaman estetik antara perupa dengan karya yang diciptakan, dan audience dengan karya seni yang ditatapnya adalah kunci pertama untuk melihat bagaimana pemikiran perupa itu berada dan diposisikan. ̳Mempertimbangkan audiens‘, saya kira ini menjadi satu pekerjaan rumah bagi kita semua. Karena ̳seni itu publik‘. Sebuah benda ciptaan disebut seni bukan oleh perupanya, tetapi oleh masyarakat seni dan masyarakat umunnya. Kita disebut sebagai perupa karena status yang kita perjuangkan depan masyarakat seni dan masyarakat umum.
Setiap karya terlahir membawa ideologinya sendiri. Ia merupakan produk dari transfer pengetahuan, pemahaman, paradigma sang perupa. Ada latar filosofi yang tersemat di dalamnya. Pilihan visual yang dihadirkan saya kira bukan sekedar lagi persoalan teknik, namun ada ide besar yang melatar belakanginya. Di sisi ini terkadang para perupa, - terlebih perupa muda- masih enggan atau takut-takut untuk mempelajari atau menyuarakannya. Padahal, pemahaman tentang filsafat seni ini sangat penting bagi seorang perupa muda sebagai bekal untuk memilih atau membangun filsafat seninya sendiri, sehingga tidak sekedar mengikut pada teori ataupun kecenderungan seni Barat yang tengah popular. Sebab, dalam pandangan saya pribadi, berkesenian itu bukan sekedar mengambil teknik semata, melainkan perlu juga mengetahui wacana filsafat, pemikiran kritis, dan metodologi-metodologi seni.