Hendra Himawan: ‘Integrated Profesional Artist’ : Sebuah Visi I

All artistic work, like all human activity, involves the joint activity of a number, often a large number of people. Through their cooperation, the art work we eventually see or hear comes to be and continues to be.  (Becker, 1982)

Semua pekerjaan artistik seperti halnya seluruh aktivitas manusia. Ia melibatkan beragam  aktivitas bersama, dan seringkali melibatkan individu dalam jumlah yang banyak. Melalui mekanisme kerjasama  inilah akhirnya sebuah karya seni dapat terus dilihat, didengar dan terus muncul. Dalam sebuah karya seni senantiasa menunjukan adanya tanda-tanda kerjasama tersebut.Bentuk-bentuk kerjasama kemungkinan hanya bersifat sementara, tetapi seringkali menjadi satu hal yang rutin terjadi, menghasilkan pola-pola aktivitas kolektif yang disebut sebagai sebuah “dunia seni”.


Melalui kerjasama yang melibatkan beragam komponen bidang ilmu untuk menciptakan karya seni, menjadikan  karya seni yang tercipta sangat unik dan bervariasi. Dengan mekanisme kerjasama yang baik, masing-masing komponen akan menciptakan kolaborasi yang saling mendukung antara satu dengan yang lain. Setiap komponen kerjasama akan memberikan kontribusi penting bagi terciptaya karya seni. Maka bagi seorang seniman profesional, penting sekali untuk mampu bersinergi dan mengintegrasikan diri sepenuhnya dengan ‘dunia seni’, dimana didalamnya terdapat banyak komponen, individu dan bidang ilmu yang beragam. Pemahaman inilah yang perlu untuk dicermati dan dipegang sebagai seorang seniman profesional yang terintegrasi dengan dunia seninya (integrated profesional artist).


Seorang seniman yang sepenuhnya siap untuk menghasilkan dan mampu menciptakan karya seni akan terintegrasi ke dalam dunia seni yang ada. Dia tidak akan menyebabkan masalah bagi setiap orang yang harus bekerja sama dengannya, karyanya akan menemukan audiens yang banyak dan responsif. Seniman seperti itu disebut seniman profesional yang terintegrasi.(Becker, 1982).


Integrated Professional Artist (seniman profesional yang terintegrasi) harus  mempunyai kemampuan teknik (technical ability), kecakapan sosial (social skill) yang baik, berikut perangkat-perangkat konseptual (skill of conceptual) dalam membangun idealisme berkeseniannya. Di samping itu seorang seniman  harus terus mengasah kesadaran intelektual untuk memahami konvensi-konvensi berikut kontekstualitas perkembangan kebudayaannya.


Kecakapan teknik (technical ability) merupakan kecakapan dasar yang harus dikuasai oleh seniman.Dimulai dari bagaimana menemukan ide, mengolah gagasan, kemudian mengeksekusinya dalam sebuah karya seni yang menuntut ketrampilan tangan, hingga mekanisme diseminasi atau penyebarluasan karya agar dapat diapresiasi dengan baik oleh publik.Kemampuan konseptual (skill of conceptual) wajib diasah dan dimiliki oleh seniman dalam membangun idealisme berkarya dan berkeseniannya. Hal ini dimaksudkan agar terlahir karya-karya seni yang progresif, tidak konservatif, kaya akan wacana pemikiran, sarat dengan muatan estetik dan mampu menjiwai zamannya (zeitgeist), dalam atmosphere lokal maupun global. Sedangkan kecakapan sosial (social skill) harus dimiliki oleh seniman agar mereka mempunyai kepekaan sosial terhadap lingkungan dan fenomena di sekitarnya, agar karya-karya yang dihasilkan mempunyai daya gugah terhadap masyarakatnya. Seniman mampu mempresentasikan proses kreatif yang telah dijalani kepada publik seni rupa yang lebih luas, hingga tercipta sirkulasi intelektual (wacana dan estetika) di dalamnya. Bagaimana seniman mampu memposisikan diri dalam jejaring sosial seni rupanya secara optimal, melakukan proses intermediasi dalam medan yang lebih komplek,  bersinergi membangun iklim kesenian yang kondusif dan progresif.